Kalau kamu menghabiskan satu hari di Jepang dengan memperhatikan kata sumimasen, kamu akan mendengarnya digunakan dengan cara yang sulit dipasangkan begitu saja dengan satu kata bahasa Indonesia.
Seseorang menabrakmu di jalan: sumimasen. Pelanggan memanggil pelayan: sumimasen. Seseorang menerima hadiah yang dirasa tidak pantas baginya: sumimasen. Orang yang berjalan melewati kamu di gerbong kereta yang penuh: sumimasen.
Permintaan maaf, panggilan perhatian, ungkapan terima kasih—semuanya, tetapi tidak sepenuhnya cocok dengan satu makna. Memahami apa yang sebenarnya dilakukan oleh kata ini membuat interaksi sosial di Jepang jauh lebih mudah dibaca.
Apa yang sebenarnya dilakukan kata sumimasen
Terjemahan paling dekat dari sumimasen mungkin: aku sadar bahwa aku sedang membebani kamu, dan aku mengakui itu.
Kata ini lebih merupakan pengakuan akan beban sosial dari sebuah interaksi daripada permintaan maaf. Saat seseorang menabrakmu, ia tidak selalu merasa sangat menyesal. Ia mengakui bahwa ia masuk ke ruangmu tanpa diundang. Saat pelanggan memanggil pelayan, ia mengakui bahwa ia mengganggu pekerjaan orang lain. Saat seseorang menerima sesuatu darimu, ia mengakui bahwa hal itu memerlukan upaya dari pihakmu.
Inilah yang membuat kata ini berguna di banyak situasi. Fungsi dasarnya, aku melihat bahwa interaksi ini punya harga sosial dan aku menyebutnya, cocok untuk semuanya.
Konsep di balik kata ini
Kehidupan sosial di Jepang sering melibatkan kesadaran terhadap meiwaku, perasaan menyebabkan kerepotan atau ketidaknyamanan bagi orang lain. Ini bukan rasa bersalah dalam pengertian psikologis Barat. Ia lebih mirip perhatian sosial: pengaturan yang berjalan terus tentang seberapa banyak ruang yang kamu ambil di lingkungan bersama.
Sumimasen adalah salah satu cara perhatian itu diungkapkan secara verbal. Mengucapkannya bukan pertunjukan rasa tertekan. Ia adalah bentuk pengakuan: tanda kecil bahwa kamu memperhatikan orang-orang di sekitarmu.
Inilah juga alasan kata ini tidak selalu terasa seperti permintaan maaf bagi penutur Jepang, meski terdengar seperti itu bagi pengunjung. Intinya bukan penyesalan, melainkan pengakuan.
Bentuknya dalam praktik
Di restoran: Mengucapkan sumimasen untuk memanggil pelayan adalah hal standar. Sopan dan benar-benar wajar. Kamu sedang mengakui bahwa kamu meminta waktu mereka. Melambai, menjentikkan jari, atau memanggil dengan keras “permisi” terasa sangat berbeda.
Di tempat ramai: Saat seseorang perlu berjalan melewati gerbong, melintas di trotoar sempit, atau mengambil sesuatu di samping kamu, sumimasen menandakan kesadaran akan gangguan kecil itu. Respons yang tenang, seperti menggeser badan dan memberi ruang, melengkapi pertukarannya.
Saat menerima bantuan atau kebaikan: Orang Jepang yang menerima sesuatu—sebuah jasa, hadiah, atau perhatian lebih—mungkin mengucapkan sumimasen alih-alih arigatō (terima kasih). Ini bukan bentuk keberatan atau ketidaksenangan. Ia adalah ungkapan rasa atas beban yang ia terima, dan pengakuan bahwa hal itu memerlukan upaya dari pihak lain.
Yang bisa dilakukan pengunjung
Kamu tidak perlu menggunakan sumimasen dengan lancar untuk mendapat manfaat dari memahaminya. Tetapi mengetahui apa yang ditandakannya membuat tekstur interaksi sehari-hari di Jepang jauh lebih jelas.
Saat seseorang mengucapkannya kepadamu, terutama dalam situasi yang sebenarnya tidak menuntut permintaan maaf, kamu kini tahu apa yang sedang terjadi. Mereka tidak sedang tertekan. Mereka sedang memperhatikan kamu.
Dan saat kamu perlu meminta bantuan, memanggil seseorang, atau melewati keramaian, sumimasen berfungsi. Ia berfungsi lebih baik daripada banyak alternatif lain, karena ia jujur: kamu mengakui bahwa kamu meminta sedikit ruang atau waktu dari orang lain, dan kamu menyebutnya secara langsung.
Dengan caranya sendiri, itulah persis yang selalu dilakukan kata ini sejak awal.